Monday, April 13, 2020

Cerita Tentang Scopus



Kabar Baik

Alhamdulillah, kabar yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Email dari Publisher Inderscience yang menginformasikan bahwa artikel yang disubmit akan segera terbit. Ini sangat membahagiakan dan melegakan tentunya.



Artikel tersebut merupakan hasil penelitian yang mendapatkan biaya dari  Dikti yaitu Hibah Penelitian Disertasi Doktor (PDD) tahun 2018. Berarti prosesnya sudah hampir dua tahun, baru mau diterbitkan. 

Memang publikasi artikel ilmiah di jurnal bereputasi baik Scopus maupun Thomson Reuter membutuhkan waktu lama. Selain itu sering ditolak atau di reject. Padahal untuk bisa naik pangkat atau lulus studi diharuskan melakukan publikasi artikel di jurnal bereputasi. Oleh karenanya wajar bila ada yang menyebutnya horor. 





Artikel yang saya publikasi di jurnal terindeks scopus tersebut merupakan salah satu syarat untuk lulus S3. Maka, sembari melakukan penelitian dan menulis disertasi,  saya juga berusaha menulis artikel yang dipublikasikan di prosiding dan jurnal.

Perjalanan artikel itu dimulai dengan Independent Study dan research project yang merupakan tahapan yang harus dilalui dalam menempuh studi yang saya jalani. Hasil dari reseacrh project berupa laporan penelitianyang diserahkan kepada prodi tempat saya kuliah. Kemudian laporan penelitian itu, dikembangkan menjadi artikel. 

Artikel tersebut harus dipresentasikan dalam konferensi internasional, dan pada waktu itu diadakan di Malang, Jawa Timur. Hasilnya dipublikasikan di prosiding. Prosiding itu juga menjadi syarat untuk lulus S3, terutama pada mendaftar ujian terbuka, dan wisuda.

Tahun berikutnya artikel yang berbeda namun dari laporan yang sama saya presentasikan ke konferensi internaional di Bali. Hasilnya artikel tersebut direkomendasikan untuk disubmit ke jurnal internasional terindeks scopus Q3. Setelah melalui proses revisi demi revisi yang sangat serius, sekitar bulan Maret tahun 2019, terbit LoA (Letter of Acceptance). LoA itulah yang menjadi tiket untuk bisa ujian terbuka, selain syarat-syarat lain yang wajib dipenuhi. Cerita mengenai persiapan ujian terbuka bisa dibaca di sini.

Jarak waktu mendapat LoA dengan waktu terbit genap satu tahun, ini merupakan jarak yang sangat lama. Untung saja peraturan di universitas tempat saya studi tidak mensyaratkan artikel harus sudah diterbitkan, cukup LoA. Untuk mandapatkan LoA pun sangat susah dan memakan waktu lama. Andai syaratnya harus sudah terbit, maka saat ini belum bisa lulus dan wisuda. 

Mengingat hal itu membuat saya terharu, dan selalu bersyukur, betapa Allah SWT yang Maha Kuasa, Maha Baik, tanpa Rahmat dan Ridho-Nya, tidak mungkin saya bisa menyelesaikan studi. Proses studi yang sangat luar biasa, mulai dari persiapan mendaftar, sampai lulus. Alhamdulillah, terimakasih ya Allah, semoga ilmu ini bermanfaat dan barokah. Aamiin.

Btw, apa sih yang dimaksud dengan Scopus? penjelasan mengenai scopus dan lainnya disajikan pada bagian berikut.

Apa itu Scopus?

Dikutip dari situs Dunia Dosen Scopus adalah salah satu databse (pusat data) sitasi artikel ilmiah atau literatur ilmiah yang dimiliki oleh Elsevier penerbit terkemuka dunia. Scopus memiliki lebih dari 22.000 judul artikel, yang meliputi bidang sains, teknik, ilmu sosial dan humaniora, serta kedokteran. 

Selain scopus sebenarnya ada juga database lain yaitu Web of Science (WOS) yang dimiliki oleh Thomson Reuters yang merupakan pusat data terbesar di dunia yang terbit lebih dahulu sebelum scopus. Thomson Reuters ini merupakan pesaing utama Scopus. Database yang populerkan oleh Elsevier sejak tahun 2004 tersebut memiliki koleksi jurnal 20 persen lebih banyak dari WOS. Mak, tidaklah mengherankan apabila Scopus lebih populer dan menjadi favorit para akademisi, peneliti, dan mahasiswa. 

Mengapa Harus Scopus?

Mengapa para akedemisi, peneliti dan mahasiswa pascasarjana berupaya untuk bisa publikasi di jurnal-jurnal terindeks Scopus? Karena Artikel ilmiah maupun jurnal yang berhasil terindeks scopus memiliki reputasi dan nilai kredit yang lebih tinggi dikalangan dosen dan peneliti. 

Maka, mereka berupaya Hal itu dikarenakan proses untuk publikasi di jurnal terindeks Scopus harus melalui seleksi yang sangat ketat. Artikel yang disubmit ke jurnal terindeks Scopus akan direview  oleh minimal dua reviewer. Proses review tidak hanya satu kali, namun bisa berkali-kali, baik revisi mayor maupun minor. 

Proses mereview yang tidak mudah itu, biasanya dibatasi oleh waktu oleh reviewer, lamanya waktu yang diberikan tergantung tingkat kesulitan revisian. kalau revisi mayor biasanya cukup lama, berbeda dengan revisi minor. 

Seberapa cepat hasil revisi dikoreksi oleh reviewer, tidak bisa diketahui, namun menurut pengalaman, semakin cepat direvisi, maka semakin cepat diketahui hasilnya.Ada baiknya ketika reviewer memberikan daftar revisian, segera dikerjakan, selesaikan dan kirimkan kembali.  
*****

Baca juga:


No comments:

Post a Comment