Monday, January 25, 2021

Kampus Merdeka


Apa itu Kampus Merdeka?

Era kepemimpinan Bapak Nadiem makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, telah mengeluarkan kebijakan baru yang dijadikan dasar untuk menerapkan Merdeka belajar dan Kampus Merdeka. 

Guna menjalankan kebijakan kampus merdeka tersebut sangat dibutuhkan inovasi dan kreativitas perguruan tinggi. Apalagi ini merupakan hal baru, yang sangat berbeda dengan pola pendidikan sebelumnya. 

Saat ini sudah ada beberapa perguruan tinggi, swasta yang telah menerpakan konsep kampus merdeka. 

Konsep kampus merdeka ini salah satu yang bisa diterapkan adalah mahasiswa boleh memilih kuliah sesuai yang diinginkan diluar program studi yang diambil. Oleh karenannya mahasiswa memiliki kesempatan yang luas untuk memiliki keahlian diluar bidang atau jurusan yang dipilih. Selain itu jadwal kuliah juga lebih fleksibel, mahasiswa bisa memilih jadwal yang disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa.   

Blended Learning 

Salah satu istilah yang populer pada saat ini dibidang pendidikan dan pembelajaran adalah blended learning. Definisi blended learning yaitu  “Blended learning combines the best aspects of online learning, structured face-to-face activities, and real world practice. Online learning systems, classroom training, and on-the-job experience have major drawbacks by themselves. The blended learning approach uses the strengths of each to counter the others’ weaknesses.” (Semler, 2005).

Blended learning merupakan suatu pola pembelajaran yang dilakukan dengan cara menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, dan gaya pembelajaran, media pembelajaran, secara interaktif antara fasilitator dengan orang yang mendapat pengajaran. Dengan kata lain Blended learning  merupakan  kombinasi pola pembelajaran secara langsung (face-to-face) dan online learning, bahkan bisa dijadikan sebagai elemen dari interaksi sosial.

Mengapa bisa disebut sebagai elemen dari interaksi sosial? Alasannya adalah (1) adanya interaksi antara mahasiswa dan pengajar, (2) Adanya proses pembelajaran  bisa secara online ataupun tatap muka langsung, (3) Blended Learning bisa diartikan sebagai combining instructional modalities (or delivery media), (4) Blended Learning sebagai combining instructional methods.

Perguruan Tinggi yang Menerapkan Konsep Kampus Merdeka

Pada masa pandemi covid-19 sudah ada beberapa kampus yang menerpakan pola pembelajaran Blended Learning, baik kampus swasta maupun negeri. Best Practice diraih oleh IPB, Universitas Prasetya Mulya, Universitas Pelita Harapan, dan Universitas Teknologi Sepuluh November.

IPB yang meraih predikat Best Practice adalah Program Magang Profesi di Prodi S-1.  Aktuaria IPB dan Mahasiswa peserta magang mengikuti program magang minimal 128 jam kerja efektif yang setara dengan 2 sks kegiatan magang, atau setara dengan 22 hari kerja di perusahaan.  

Universitas Prasetya Mulya

Program Co-operative Education Prodi Matematika Bisnis Universitas Prasetiya Mulya. Program Co-op memungkinkan siswa untuk mendapatkan setidaknya satu tahun pengalaman kerja secara profesional di bidang yang berkaitan dengan Matematika Bisnis.

Universitas Pelita Harapan

Program merging Prodi Ilmu Aktuaria di Universitas Pelita Harapan (UPH). Prodi Ilmu Aktuaria menerapkan magang di tahun ketiga dan tahun keempat, misalnya di industri asuransi.

Universitas Teknologi Sepuluh November

ITS mengeluarkan Peraturan Rektor Institut Teknologi Sepuluh November Nomor 12 Tahun 2019 tentang Baku Mutu Magang Program Studi Sarjana Terapan dan Sarjana. Magang berdurasi antara satu bulan hingga enam bulan.

Kampus lain yang menerapkan Blended Learning yaitu:

1. Universitas Indonesia

2. Universitas Budi Luhur Jakarta

3. Universitas Sebelas Maret

4. Universitas Negeri Yogyakarta

5. Universitas Bina Nusantara

6. Universitas Budi Luhur

Dll.

 

Kegiatan mahasiswa yang dapat dilakukan di luar kampus asal

Mahasiswa selain belajar di kampus asal juga bisa belajar di tempat lain, melalui beberapa kegiatan antara lain:

1.      Magang / Kerja

2.      Pertukaran Pelajar

3.      Proyek di desa

4.      Berwirausaha

5.      Penelitian (riset)

6.      Proyek kemanusiaan

7.      Studi/Proyek independen

Semua kegiatan wajib dibimbing oleh seorang dosen / pengajar. Kegiatan yang berada di luar Perguruan Tinggi asal (misalnya magang atau proyek di desa) dapat diambil sebanyak dua semester atau setara dengan 40 sks.

Kampus Merdeka
Kegiatan Pilihan Mahasiswa di Luar Kampus Asal


Kampus merdeka memungkinkan mahasiswa memiliki kebebasan memilih jadwal kuliah dapat disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa. Kampus yang menerapkan blended learning ini memberikan kemudahan belajar bagi para mahasiswa, sehingga bisa belajar dimanapun, kapanpun, dan dalam kondisi apapun tanpa perlu takut ketinggalan pelajaran. Pada kampus merdeka syarat lulus bukan hanya melalui penulisan skripsi. Mahasiswa dapat memilih untuk mengambil atau tidak mengambil skripsi sebagai syarat lulus dan menggantinya dengan tugas magang atau mata kuliah tambahan.

 


Friday, July 3, 2020

Tentang Zoom


Pandemi covid-19 merubah banyak hal. Termasuk menyelenggarakan seminar, pembelajaran sekolah dan lain-lain.

Aplikasi Zoom menjadi primadona saat pandemi ini untuk acara rapat, silaturahmi, seminar, dan pembelajaran online.

Monday, June 29, 2020

Novelty

Novelty Sesuatu yang Paling dicari 

Kebaruan atau novelty menjadi sesuatu yang paling dicari oleh peneliti maupun mahasiswa dalam menulis disertasi atau karya ilmiah lainnya. 

Definisi Novelty

Saturday, June 27, 2020

Variabel Penelitian Adalah

Variabel dan Jenis-jenis Variabel

Variabel selalu erat kaitannya dengan penelitian. Penelitian terdiri dari beberapa variabel yang menjadi fokus peneliti. Selain itu penelitian biasanya bertujuan melihat bentuk hubungan antar variabel satu dengan variabel lainnya. Kemudian hasilnya ditarik kesimpulan. 

Thursday, June 25, 2020

Tentang Studi S3 dan Menulis Disertasi


     S3 dan Disertasi

Setiap mahasiswa doktoral memiliki kisah tersendiri selama menempuh studi. Terutama  pada saat menulis disertasi.

Menulis disertasi bagai berlayar dilautan tak bertepi, bilakah akan sampai? Begitu banyak tantangan dan rintangan datang silih berganti dan tak terduga.

Friday, June 19, 2020

Social Entrepreneurship

 Social Entrepreneurship

Apa itu Social Entrepeneurship?

Social entrepreneurship secara lebih komprehensif merupakan penciptaan nilai sosial yang dibentuk dengan cara bekerja sama dengan orang lain atau organisasi masayarakat yang terlibat dalam suatu inovasi sosial yang biasanya menyiratkan suatu kegiatan ekonomi (Hulgard, 2010)

Tuesday, May 19, 2020

Tips Presentasi Didepan Umum

Solusi Atasi Grogi Sebelum, Saat dan Setelah Bicara di Depan Umum

Meskipun sudah sering berbicara di depan umum tak urung perasaan grogi masih kerap saya alami.  Perasaan nervous itu memang wajar selalu hadir setiap akan tampil ditempat baru, audience baru, materi baru, dan lain-lain. Ada rasa takut tidak mampu, dan malu efeknya jadi bingung, dan tidak percaya diri. Nah, bagaiamana mengatasi rasa grogi? Ini yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa grogi berdasarkan pengalaman pribadi dan beberap sumber.

Monday, April 13, 2020

Cerita Tentang Scopus



Kabar Baik

Alhamdulillah, kabar yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Email dari Publisher Inderscience yang menginformasikan bahwa artikel yang disubmit akan segera terbit. Ini sangat membahagiakan dan melegakan tentunya.

Saturday, April 4, 2020

10 Karakteristik produk Hijau, dan 8 Alasan Konsumen Membeli Produk Hijau

  


Dalam beberapa tahun terakhir  peminat produk hijau atau green product di Indonesia semakin meningkat. Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Perusahaan sebagai produsen berusaha memanfaatkan  peluang ini dengan menciptakan produk hijau, guna memenuhi kebutuhan konsumen. Kemudahan mendapatkan produk hijau merupakan faktor penting masyarakat berperilaku ramah lingkungan. Salah satu perilaku ramah lingkungan adalah membeli produk hijau.

Tuesday, March 31, 2020

Cerita Persiapan Ujian Terbuka Promosi Doktor


Saya pernah mendengar pendapat bahwa wisuda bukan momen sakral bagi mahasiswa S3, tetapi ujian terbuka. Maka, mahasiswa S3 dalam menyambut wisuda tidak sesuka cita Ujian terbuka. Ibaratnya kalau sudah ujian terbuka, tidak wisuda juga tidak apa-apa. Oleh karena itu pada saat wisuda kalau tidak bersama keluarga tidak jadi soal, wisuda berangkat sendiri, pulang sendiri.

Monday, March 16, 2020

Kualitas Pelayanan, dan Loyalitas Konsumen

Kualitas pelayanan, dan Loyalitas Konsumen


Sebelum membeli produk barang atau jasa, biasanya konsumen memiliki harapan. Harapan konsumen tentu hal-hal yang baik, sesuai kebutuhan dan keinginan. Setelah membeli, maka konsumen bisa merasakan kemudian membandingkan apakah pelayanan yang diterima sesuai, kurang, atau justru melampui harapan?

Tuesday, January 21, 2020

Research Gap; Jenis-jenis Research Gap


Research Gap


           Oleh : Sri Rahayu


Research gap atau kesenjangan penelitian menjadi hal penting yang dicari oleh peneliti, sebagai bahan untuk menulis artikel, atau proposal penelitian. Terutama mahasiswa S2 dan S3, yang memang sangat membutuhkan ‘’kesenjangan penelitian’’ untuk menulis tesis dan disertasi. Sedangkan untuk jenjang S1, adanya fenomena bisnis atau data lapangan sudah cukup, belum wajib ada research gap, walaupun diperbolehkan.



Apa yang dimaksud dengan research gap? research gap adalah celah penelitian dan pengalaman atau penelitian para peneliti sebelumnya (Zain, 2018). Pendapat lainnya Ferdinand, (2014) research gap adalah perumusan masalah penelitian yang bersumber dari fenomena gap, atau fenomena bisnis, sesuai data lapangan, juga research gap dan teori gap.


Jadi research gap adalah kesenjangan penelitian yang berasal dari perbedaan hasil penelitian terdahulu, konsep, teori, data atau masalah dilapangan, yang menjadi celah bagi penelitian selanjutnya.


Jenis-Jenis Research Gap, Kesenjangan penelitian, Celah Penelitian



Research gap ini yang akan dirumuskan menjadi masalah penelitian, dan pertanyaan penelitian kemudian berusaha dicarikan solusi untuk menutupi celah penelitian.

Jenis-jenis Research Gap


Research Gap terdiri dari beberapa jenis, yaitu Theoritical gap, Conceptual gap, Empirical gap, Methodogical gap, Practical-Knowledge gap, Evidence gap, Muller-Bloch & Kranz, 2015), Population gap (Robinson, et al. 2011). Bisa jadi masih ada jenis research gap lain, yang tidak dibahas dalam artikel ini. Penjelasan mengenai berbagai kesenjangan penelitian disajikan sebagai berikut.


Baca juga artikel Social Entrepreneurship

Theoritical Gap


Theoritical Gap atau kesenjangan teori merupakan adanya kelemahan, keterbatasan, atau celah yang belum terpenuhi dari suatu teori atau kerangka kerja (Muller-Bloch & Kranz, 2015).

Pendapat lainnya theoritical gap ada kaitannya dengan kesenjangan teori dalam riset terdahulu. Dengan kata lain terdapat teori yang terkait dan relevan dengan riset yang dilakukan sekarang, tetapi belum digunakan pada penelitian sebelumnya. Teori tersebut sangat relevan dengan topik yang sedang diteliti sekarang. Bisa juga teori yang digunakan saat ini, dinilai lebih baik dari teori yang digunakan sebelumnya untuk topik penelitian yang sama, (Muller-Bloch & Kranz, 2015).

Penelitian yang berdasarkan kesenjangan teori atau gap theory, belum terlalu banyak dilakukan, karena membutuhkan kajian yang sangat mendalam, dan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, dibanding jenis kesenjangan lainnya. Selain itu dimungkinkan juga tidak semua peneliti memiliki rasa percaya diri untuk mengkritisi sebuah teori yang sudah mapan.

Conceptual Gap   


Kesenjangan konseptual umumnya dikaitkan dengan konsep yang digunakan dalam suatu kajian. Adanya kesamaan konsep yang diartikan atau didefinisikan secara berbeda, juga bisa menjadi suatu kesenjangan (gap). Selain itu, bangunan konsep yang belum jelas dasar teorinya, bisa menjadi gap yang perlu dicarikan solusinya.

Bagaimana cara mengatasi adanya kesenjangan konseptual ini? Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh peneliti yaitu:
    • Mengetahui tujuan konsep tersebut dibangun
    • Apabila terdapat keraguan, atau ketidak jelasan konsep, maka boleh menggunakan konsep dari bidang lain yang relevan atau memiliki kedekatan dengan konsep yang dikaji. Misalnya konsep perilaku konsumen sangat relevan dan dekat dengan bidang kajian psikologi. Maka bisa gunakan psikologi untuk mengatasi kesenjangan konsep mengenai perilaku konsumen.
    • Peneliti harus berani memberikan justifikasi, jika masih terdapat keraguan, maka harus bisa memberikan definisi baru yang lebih jelas.
    • Bila perlu bangun konsep baru jika belum tersedia, berdasarkan teori yang terkait. Bangunan konsep baru ini disebut novelty, atau kebaruan penelitian.

Empirical Gap


Empirical gap berkaitan dengan temuan riset terdahulu yang memerlukan verifikasi ulang atau evaluasi secara empiris. Hal ini berarti belum ada riset sebelumnya yang melakukan verifikasi/evaluasi, atau kajian empiris terhadap topik yang sedang diteliti sekarang, (Muller-Bloch & Kranz, 2015).

Empirical gap juga berkaitan dengan adanya perbedaan hasil penelitian yang tidak konsisten (didukung atau tidak didukung). Inkonsistensi hasil penelitian tersebut menjadi celah untuk dilakukan penelitian selanjutnya, dengan mengajukan solusi berupa variabel mediasi, moderasi atau a’aksen (Ferdinand, 2016). Sejalan dengan pendapat tersebut, Wu & Zumbo, (2008), mengemukakan bahwa solusi dari penelitian yang tidak konsisten (inkonsisten) adalah dengan memberikan variabel antara. Variabel antara harus berdasarkan kajian penelitian sebelumnya atau teori yang relevan dengan topik kajian.    

Methodological Gap


Methodological Gap ini bisa terjadi disebabkan oleh penggunaan berbagai metode, atau menggunakan gabungan beberapa metode untuk mengkaji suatu topik pada penelitian yang sedang dilakukan sekarang, sedangkan penelitian terdahulu hanya menggunakan satu metode saja, (Muller-Bloch & Kranz, 2014).

Penggunaan metode yang berbeda tersebut disebabkan oleh adanya indikasi bahwa metode yang digunakan sebelumnya dianggap kurang tepat dengan topik yang diteliti saat ini, maka digunakan metode yang baru untuk menjawab masalah penelitian yang sama. Dengan kata lain menggunakan satu metode atau gabungan berbagai metode (mix method) yang berbeda/baru untuk memecahkan masalah penelitian yang sama.   

Selain itu, ada strategi lain yang bisa digunakan untuk mengisi methodological gap, yaitu membangun instrumen baru, gunakan instrumen yang berbeda dengan menggunakan konsep yang sama, dan gunakan sampel yang berbeda. Itulah beberapa cara untuk mengatasi methodological gap.  

Practical–Knowledge Gap


Practical- knowledge gap, terkait dengan interverensi atau pengaruh lingkungan yang menyebabkan sulit untuk diaplikasikan , seperti pengaruh faktor budaya, agama, budaya organisasi, kepemimpinan, dan personality.

Hal tersebut bisa juga disebabkan oleh adanya perbedaan perilaku para professional dengan perilaku yang sudah lazim digunakan oleh lingkungan. Perbedaan itu bisa menyebabkan timbulnya konflik, oleh karenanya peneliti harus berusaha menentukan ruang lingkup konflik dan menemukan alasan-alasan dibalik perilaku tersebut, pada penelitian yang dilakukan (Muller-Bloch & Kranz, 2015). Selain itu, bisa juga menyiapkan suatu intervensi baru yang lebih baik, dari intervensi yang digunakan sebelumnya.

Evidence gap


Evidence gap ini berkaitan dengan temuan atau bukti yang ditemukan dalam riset yang sangat bertentangan dengan kesimpulan atau konsep-konsep atau fakta umum yang sudah diterima.

Sebagai contoh, pada umumnya, konsumen yang memiliki kepercayaan terhadap suatu merek (brand trust), maka akan loyal terhadap merek itu. Namun, ada temuan penelitian yang membuktikan bahwa kepercayaan konsumen terhadap merek tidak selalu menjadi alasan konsumen loyal kepada merek. Temuan tersebut sangat bertentangan dengan temuan-temuan sebelumnya, oleh karenanya merupakan evidence gap yang memerlukan jawaban dengan melakukan penelitian dimasa depan.   

Population Gap


Population gap berkaitan dengan populasi yang kurang diperhatikan atau tidak diperlakukan secara cukup/seimbang dalam riset sebelumnya. Sebagai contoh, pada riset sebelumnya yang diperhatikan hanya mahasiswa berjenis kelamin perempuan, sedangkan mahasiswa laki-laki tidak diperhatikan sama sekali, (Robinson, et al, 2011). Contoh lainnya, hanya pedagang kecil saja yang dijadikan populasi penelitian, sedangkan pedagang menengah dan atas tidak dilibatkan. Masih banyak contoh lainnya, seperti kelompok usia, tingkat pendapatan, wilayah, tingkat pendidikan dan lain-lain.   

Berbagai research gaps tersebut sangat bermanfaat bagi peneliti membangun suatu novelty atau kebaruan penelitian, yang membedakan riset sekarang dengan riset-riset sebelumnya, bukan hanya riset duplikasi (Sukur, 2020).

Menemukan research gap memang tidak mudah, kadang bikin megap-megap (lebaayyy..), butuh ketelitian dan membaca secara mendalam berbagai literatur, sehingga membutuhkan banyak waktu, tenaga dan pikiran, serta biaya. Waktu yang dibutuhkan bisa berbulan-bulan, untuk menemukan research gap ini, tak heran jika putus asa bisa mewarnai proses pencarian. 

Proses menemukan research gap ini membutuhkan berbagai keterampilan agar prosesnya tidak memakan waktu terlalu lama. Keterampilan itu antara lain paham bagaimana menemukan artikel sesuai tema, kemampuan membaca literasi, mereviu artikel, mapping artikel, kemampuan bahasa asing (Inggris khususnya) dan lain sebagainya. Berbagai keterampilan itu tidak bisa dikuasai secara instan, harus banyak belajar dan berlatih. Jam terbang memang sangat menentukan kecepatan dan ketepatan dalam menemukan research gap, serta solusinya.

Bagi teman-teman yang sedang berjuang menemukan research gap semoga diberikan semangat, dan kemudahan. Semoga tulisan ini bermanfaat.Aamiin

Referensi 

Ferdinand, A. (2014). Metode Penelitian Manajemen edisi kelima. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

Ferdinand, A. (2016). Statistik untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Müller-Bloch, C., & Kranz, J. (2015). A framework for rigorously identifying research gaps in qualitative literature reviews.

Robinson, K. A., Saldanha, I. J., & Mckoy, N. A. (2011). Development of a framework to identify research gaps from systematic reviews. Journal of clinical epidemiology64(12), 1325-1330.

Wu, A. D., & Zumbo, B. D. (2008). Understanding and using mediators and moderators. Social Indicators Research87(3), 367.


===

#menulissetiaphari
#latihannulis


***
Artikel Terkait : Disertasi dan studi S3